Enam Pilar Pendidikan Karakter di SMP 3 PDF Cetak E-mail
Oleh Dra. Roch Mulyati, M.Si.   
Rabu, 06 Juli 2011 21:15

Pendidikan merupakan salah satu pilar utama bagi kemajuan bangsa dan negara. Tidak mengherankan bila pendidikan berkualitas dan siap guna selalu didamba. Pendidikan berkualitas diharapkan menghasilkan generasi muda yang berakhlak mulia, kreatif, inovatif, berwawasan kebangsaan, cerdas, sehat, berdisiplin dan bertanggung jawab, berketerampilan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

SMP Negeri 3 Semarang sebagai salah satu satuan pendidikan di Kota Semarang  memiliki komitmen yang tinggi untuk mewujudkan pendidikan berkualitas. Hal ini diawali dari rumusan visi “berbudi luhur, berprestasi unggul, dan berwawasan luas.” Untuk merealisasikan visi tersebut, berbagai langkah konkret telah ditempuh dan dijalankan secara sungguh-sungguh.

 

Program konkret yang telah dijalankan adalah penggunaan seragam (celana/rok) panjang dan sistem running class. Kedua program memiliki makna filosofi yang berbeda. Penggunaan seragam panjang dimaksudkan untuk mendukung peningkatan etika berpakaian yang mengutamakan kesopanan, kerapian, dan keserasian. Adapun running class mendukung pencapaian peningkatan kualitas pembelajaran secara kreatif dan mandiri bagi seluruh siswa. Dengan sistem ini, siswa mengalami pembiasaan positif, yakni selalu dinamis dalam segala aktivitas.

 

Seiring dengan siswa yang selalu dinamis, SMP 3 Semarang telah menyediakan loker yang jumlahnya memadai. Loker berfungsi untuk menyimpan sementara buku-buku pelajaran agar tidak selelu membebani siswa pada setiap perpindahan ruang belajar. Selain itu, loker bermanfaat untuk menyimpan benda-benda yang selalu digunakan di sekolah seperti topi dan dasi. Hal ini meminimalkan siswa yang tidak barpakaian lengkap pada saat mengikuti upacara bendera.

 

Program sekolah yang tidak kalah pentingnya adalah penerapan enam pilar pembangun karakter bangsa. Keenam pilar tersebut adalah pilar religi, kedisiplinan, kejujuran, ekspresi diri, berpikir kritis, dan empati.

 

Pilar religi adalah pilar utama dan pertama. Melalui pilar religi akan terbentuk manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga akan selalu terjaga dari perbuatan yang merugikan diri dan lingkungannya. Pembentukan karakter religius di SMP dilakukan setiap hari dengan pembiasaan doa pada awal dan akhir pelajaran, tadarus, salat zuhur berjamaah/salat Jumat (Islam), dan kegiatan rohani (Kristen dan Katolik). Selain itu, retret dan pesantren ramadan, serta  peringatan hari-hari besar agama menjadi agenda rutin setiap tahun di SMP 3 Semarang.

 

Pilar kedua adalah kedisiplinan. Kedisiplinan merupakan jembatan menuju sukses. Pembentukan karakter disiplin di SMP 3 Semarang dimulai dari kepatuhan siswa datang tepat waktu. Seorang siswa yang datang terlambat akan mendapat peringatan dan sanksi karena telah melanggar kedisiplinan. Sanksi diberikan dengan harapan siswa terbiasa untuk berdisiplin mulai dari hal-hal yang sederhana. Kebiasaan ini akan melekat dan diharapkan bisa diterapkan dalam segala hal, seperti disiplin dalam upacara, mengerjakan tugas, mengikuti pelajaran, dan sebagainya.

 

Pilar ketiga adalah kejujuran. Kejujuran adalah harta yang tiada ternilai harganya. Sekolah mendiidik siswa untuk bertindak jujur antara lain lewat kantin kejujuran. Karakter jujur juga dibentuk lewat pembiasaan tidak menyontek saat ulangan, kata-kata bijak yang disampaikan oleh setiap guru, pemasangan poster/spanduk tentang nilai kejujuran, dan sebagainya.

 

Pilar keempat ekspresi diri. Setiap siswa SMP Negeri 3 Semarang bebas melakukan ekspresi diri secara positif. Para siswa dapat menggunakan fasilitas kegiatan yang tersedia di sekolah seperti kegiatan ekstrakurikuler. Lewat kegiatan tersebut, siswa dapat mengekspresikan kemampuan/bakat/minatnya. Di samping itu, para siswa dapat menyalurkannya lewat majalah dinding, majalah Master, web resmi sekolah dengan menampilkan karya-karyanya.

 

Pilar kelima berpikir kritis. Karakter ini sangat penting agar tetap eksis terutama dalam menghadapi era global. Siswa SMP 3 selalu dibiasakan berpikir kritis dan menyalurkannya secara positif. Misalnya terhadap siswa yang melakukan pelanggaran tata tertib sekolah, kritis terhadap kebijakan sekolah, dan berpikir kritis terhadap masalah-masalah yang terjadi di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Untuk mengakomodasinya, sekolah menyediakan kotak saran, membuka kesempatan dialog, dan mengarahkannya lewat ekstrakurikuler KIR.

 

Pilar keenam adalah empati. Pilar ini menempa kepribadian siswa agar terampil secara sosial. Lewat pilar ini, kepedulian terhadap sesama dibentuk. Program yang dijalankan sekolah adalah dengan pembiasaan untuk menjenguk teman/keluarga yang sakit atau ditimpa musibah dan mengumpulkan sumbangan untuk membantu meringankan beban si sakit. Selain itu, pada saat menjelang hari raya Idul Fitri siswa dibiasakan menyerahkan zakat fitrah dan infak. Hasilnya disalurkan kepada panti-panti asuhan dan masyarakat yang membutuhkan lewat program bakti sosial yang sudah berjalan secara rutin setiap tahun. Pembagian daging kurban setiap Idul Adha juga sudah menjadi agenda tahunan. Karakter berempati juga dibiasakan secara insidental bila ada daerah-daerah yang tertimpa bencana alam. Misalnya dengan mengumpulkan bahan makanan, uang, dan pakaian siap pakai.

 

Itulah enam pilar yang telah dan akan selalu ditegakkan di SMP 3 Semarang dengan harapan akan memberikan kontribusi positif terhadap terbentuknya lulusan yang berbudi luhur, berprestasi unggul, dan berwawasan luas. Semoga mendapat dukungan semua pihak dan selalu dalam pertolongan serta rida-Nya. Amin.

Terakhir Diupdate pada Senin, 06 Februari 2012 00:06
 
4 Votes

1 Comment

Pembuat Kendi dan Pengrajin Emas PDF Cetak E-mail
Oleh Sugeng Budiarto   
Jumat, 13 Mei 2011 23:14
Dikutip dari Majalah NUANSA PERSADA

Oleh : Ust.H. Dave Ariant Yusuf

Bertahun-tahun yang lampau di salah sebuah kota , tinggal seorang pengrajin emas dan seorang pembuat kendi. Perajin emas itu seorang materialis dan pecinta harta. Oleh sebab itu, dia senantiasa berusaha dengan segala cara untuk mendapatkan harta dan kekayaan. Semua orang tahu bahwa dia tidak mengindahkan kejujuran. Sebaliknya, pembuat kendi adalah seorang mukmin dan pekerja keras. Dia dicintai oleh masyarakat. Setiap orang yang memiliki problema akan datang meminta bantuannya. Si perajin emas berfikir, mengapa warga kota begitu mencintai sang pembuat kendi, padahal dia tidak memiliki harta benda. Menurutnya, cinta dan kasih sayang bisa diperoleh lewat tipu daya dan makar. Karena itu timbul rasa dengki si pengrajin emas terhadap pembuat kendi. Pada suatu hari, ketika petugas kota mengejar pencuri di pasar, si pengrajin emas melihat bahwa saat itu adalah momen yang tepat untuk menuntaskan dengkinya terhadap pembuat kendi. Oleh sebab itu, dia menunjuk si pembuat kendi dan berbohong dengan mengatakan: Saya melihat pencuri masuk ke rumah lelaki ini. Petugas dengan segera memasuki rumah pembuat kendi dan ketika dia tidak menemukan tanda-tanda adanya pencuri, ia menyeret paksa pembuat kendi ke penguasa dan memintanya untuk menyerahkan si pencuri. Pembuat kendi bersumpah bahwa dia tidak mengetahui apa-apa. Tapi apa daya, ia tetap dijebloskan ke penjara. Beberapa hari kemudian, pencuri tersebut tertangkap dan sekaligus membuktikan bahwa pembuat kendi tidak bersalah. Dia pun dibebaskan. Sebaliknya, pengrajin emas yang berbohong mendapatkan ganjaran yang setimpal dengan perbuatannya.

Setelah peristiwa itu, si pengrajin emas itu bukannya menyesal atas tindakannya, tetapi malah semakin terbakar oleh api kedengkian terhadap si pembuat kendi. Apalagi, dia menyaksikan bahwa si pembuat kendi semakin dicintai oleh masyarakat.
Dengki dan hasad sedemikian membakar jiwa dan hatinya sehingga dia mengambil keputusan yang berbahaya. Dia menyediakan racun dan memperalat seorang anak muda bodoh untuk meracun pembuat kendi dengan mengupahnya seratus keping emas. Hari yang ditetapkan pun tiba. Perajin emas menanti suara jerit tangis dari rumah pembuat kendi. Tetapi hal itu tidak terjadi. Sebaliknya pembuat kendi kelihatan sehat dan segar bugar seperti biasa.

Pengrajin emas merasa heran dan dengan segera dia mencari anak muda itu dan menyelidiki apa yang terjadi. Sadarlah dia bahwa bukan hanya si pembuat kendi itu tidak diracun, tetapi anak muda tersebut malah lari dari kota membawa seratus keping emas pemberiaannya. Ketika perajin emas ini mendengar berita itu, dia merasa sangat sedih. Begitu sedihnya sampai ia jatuh sakit. Tidak ada dokter yang bisa mengobatinya. Ya, karena memang tidak ada obat yang bisa menyembuhkan api dendam dan kedengkian. Lelaki pengrajin emas telah kehilangan segala-galanya dan dunia menjadi gelap baginya. Hal ini menyebabkan isteri dan anak-anaknya meninggalkannya.
Berita kesendirian pengrajin emas yang sakit itu diketahui oleh tetangganya, si pembuat kendi yang baik hati. Dia berpikir, inilah waktunya untuk pergi mengunjungi pengrajin emas. Dia menyediakan makanan yang enak dan membawanya ke rumah perajin emas.

Pengrajin emas, tidak dapat berkata apa-apa ketika melihat pembuat kendi. Pembuat kendi duduk di sisinya dan dengan lemah lembut menanyakan keadaan dirinya dan berkata: Aku datang karena memenuhi hakmu sebagai tetanggaku. Pengrajin emas menundukkan kepalanya karena malu. Pembuat kendi melanjutkan: Aku mengetahui segala apa yang terjadi pada masa lalu. Anak muda itu satu hari datang kepadaku dan memberitahu apa yang terjadi dan menyarankan supaya aku meninggalkan kota ini karena sudah tentu nyawaku akan tidak selamat dari mu. Tetapi oleh karena aku berharap kepada rahmat dan karunia Ilahi, setiap hari aku berdoa untuk mu semoga dirimu dibebaskan dari rasa dengki dan hasad terhadapku.

Kata-kata pembuat kendi menyebabkan pengrajin emas itu menangis. Pembuat kendi memegang tangan tetangganya dan berkata, “Sahabat ku, ketahuilah bahawa kedengkian laksana api yang membakar dan orang yang mula-mula dibakarnya adalah diri insan itu sendiri. Alangkah baiknya jika dalam masa yang pendek dan singkat di kehidupan dunia ini, kita saling kasih mengasihi sehingga kita meninggalkan nama yang baik. Tahukah engkau apakah rahasia kebaikanku di tengah masyarakat? Untuk mengetahui rahasia ini, aku ingin menyajikan sebuah kisah untuk mu. Pengrajin emas memasang telinganya untuk mendengar kisah tersebut dan dalam keadaan tersenyum yang tersungging di bibirnya, dengan penuh perhatian dia mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh pembuat kendi. Si pembuat kendi berkata; Pada suatu hari Imam Sajad as, berkata kepada salah seorang sahabatnya bernama Zuhri yang begitu sedih memikirkan segala yang muncul dari sifat hasad pada dirinya. Beliau berkata: “Wahai Zuhri, apakah salahnya jika engkau menganggap orang lain sama seperti saudara dan keluargamu sendiri, orang yang tua sebagai bapakmu, anak-anak sebagai anakmu dan orang yang sebayamu seperti saudaramu sendiri. Ketika dalam keadaan begini, bagaimana mungkin engkau berbuat zalim kepada orang lain? Janganlah engkau lupa pada hal ini bahwa orang lebih menyayangi siapa yang berbuat baik kepada orang lain. Jika cara ini kau lakukan dalam hidupmu, dunia akan menjadi tempat yang membahagiakanmu dan engkau akan mempunyai banyak kawan.

Kata-kata pembuat kendi itu sampai disini. Pengrajin emas merenungkan kalimat tersebut. Tampak rasa penyesalan di wajahnya. Dengan suara yang bergetar, dia meminta maaf atas segala yang terjadi di masa lalu. Kepada Tuhan dia berjanji bahwa selepas ini dia akan menggantikan rasa dengki yang memenuhi hatinya dengan kasih sayang dan persahabatan kepada orang lain. /**

Terakhir Diupdate pada Jumat, 05 Oktober 2012 09:52
 
3 Votes

1 Comment

Bahaya Menunda-nunda PDF Cetak E-mail
Oleh Sugeng Budiarto   
Jumat, 13 Mei 2011 22:48
Sebuah Renungan, Dikutip dari Majalah NUANSA PERSADA

Ternyata ibadah itu tidak hanya asal dikerjakan, tetapi waktunya juga harus dijaga. Firman Allah innaman nasii-u ziyaadatun fil kufr ~ sesungguhnya menunda-nunda itu menambah kekufuran.

Dari 5 rukun Islam, hanya sholat yang tidak kenal ampun, maksudnya tidak ada alasan untuk tidak dikerjakan. Dan harus pada rentang waktunya pula.

Berbeda dengan haji yang baru wajib dikerjakan bagi yang sudah mampu. Sedangkan sholat tidak mengenal tidak mampu. Tidak ada pengecualian. Bagi yang sakit super berat, sholat harus jalan terus. Sambil duduk, atau berbaring, bahkan cukup dengan isyarat mata jika anggota badan tidak bisa digerakkan.

Puasa bisa diganti fid-yah, bisa dibayar di lain waktu, bahkan dibayar ahli waris. Sholat tidak bisa. Harus dikerjakan sendiri. Zakat ada perhitungan nishob yang lumayan rumit, sedangkan nishob sholat sangat simpel: perintah anak umur 6 tahun, jitak anak umur 9 tahun. Sederhana, bukan? Tentunya dengan pukulan ringan yang tidak melukai dengan maksud untuk mendidik, bukan dengan tempeleng yang membuat anak semaput.

Apakah setelah mengerjakan sholat semuanya otomatis oke? Ternyata tidak.
Wailul lil musholliina ~ Neraka Wail bagi orang yang sholat.
Alladzina hum ‘an sholaatihim saahuun ~ yaitu orang yang sholatnya lalai.
Jadi jelas, sholat tidak hanya wajib dikerjakan, tetapi juga wajib dijaga waktunya. Dikerjakan tetapi telat, itulah buah dari yang namanya Menunda-nunda. Dalam terminologi Time Management alias Manajemen Waktu, disebut Procrastination.
Bagaimana dengan ibadah dan pekerjaan lainnya?

Matriks Covey
Buku best seller dunia The 7 Habits of Highly Effective People karya Stephen R. Covey membuat matriks antara Importance ~ Kepentingan dan Urgency ~ Kemendesakan. Atas 2 kombinasi Penting dan Tidak Penting serta 2 kombinasi Mendesak dan Tidak Mendesak, maka diperoleh matriks 2x2 yang menghasilkan 4 kuadran: kuadran Penting Mendesak “PM”, kuadran Penting Tidak Mendesak “PTM”, kuadran Tidak Penting Mendesak “TPM”, dan kuadran Tidak Penting Tidak Mendesak “TPTM”.
Tingkat kepentingan dapat diukur dari sebesar apa pengaruhnya terhadap kehidupan. Semakin besar pengaruhnya, semakin penting. Semakin kecil pengaruhnya, semakin tidak penting.
Tingkat kemendesakan diukur dari seberapa lama jelang terhadap batas waktu yang ditetapkan. Semakin lama jelang waktunya, semakin tidak mendesak. Semakin mepet jelang waktunya, semakin mendesak.

PTM vs PM.
Sholat 5 waktu jelas penting, karena pengaruhnya terhadap kehidupan luar biasa. Sabda Nabi, janji antara beliau dengan ummatnya adalah sholat. Barangsiapa yang tidak sholat, tidak ada ikatan janji apa-apa antara orang itu dengan Nabi. Jadi buat yang tidak sholat, sorry, jangan menagih janji syafa’at Nabi nanti di hari kiamat. Bahkan di hadits lain yang lebih tegas menyatakan: man tarokaha faqod kafaro ~ barangsiapa yang meninggalkan sholat, maka sungguh kufur orang itu.

Sholat bisa dilaksanakan begitu masuk waktu sholat setelah adzan dan qomat dikumandangkan, atau dilaksanakan sudah dekat akhir waktu sholat, menjelang adzan sholat berikutnya. Dalam matriks, yang pertama termasuk PTM dan yang kedua PM.
Apa bedanya sholat di kuadran PTM dan kuadran PM? Bedanya jauh sekali bainas samaa-i wa sumur saat ~ bedanya bagaikan langit dan sumur kering.

Di kuadran PTM sholat dikerjakan dengan tumaninah dan khusyu’. Sedangkan di kuadran PM sholat dikerjakan dengan tergesa-gesa, sehingga bagaimana bisa tumaninah dan khusyu’?
Apa yang menyebabkan orang sholat di kuadran PM, dan bukannya di kuadran PTM?
Ya, penyakit Menunda-nunda alias Procrastination itulah.

Yang lebih super gawat luar biasa adalah disaat datang waktu sholat bertepatan dengan jam tayang sinetron, atau, sorry, sepak-bola. Orang mengabaikan adzan. Bahkan ketika berkumandang kalimat qod qoomatish sholaat – qod qoomatish sholaat, orang tetap tidak bergerak. Orang baru terbirit-birit sholat ketika muncul “qomat” dalam bentuk tayangan iklan. Masya Allah.
Tentu saja kuadran PM dibuat Covey bukan untuk membahas sholat, tetapi untuk kehidupan pada umumnya.

Misalnya pelajar kelas 3 yang baru mulai belajar awal Maret jelas ada di kuadran PM, karena UAN akan dimulai pertengahan Maret.
Misalnya orang yang baru mengisi SPT pajak tanggal 30 Maret jelas ada di kuadran PM, karena membayar pajak itu penting dengan ancaman pidana, sedangkan batas waktu penyerahannya 31 Maret.

Misalnya pria umur 35 tahun tetapi masih lajang, tidak puasa pula, jelas berada di kuadran PM, sebab bukankah nikah itu wajib dan Nabi menikah di umur 25? Jadi ngapain saja selama 10 tahun?
Dst., dst.

TPM vs. TPTM
Pernah terburu-buru mengangkat tilpon, eh, tahu-tahu ada orang salah nomor? Atau sedang asyik bekerja tiba-tiba di call pembantu karena goreng ikan asin gosong? Atau pelajar sedang asyik membaca tiba-tiba ada yang melempar kacang? Itulah kondisi-kondisi TPM: Tidak Penting, tetapi Mendesak untuk diberi respons.

Banyak eksekutif memilih tidak memegang handphone sendiri melainkan oleh sekretaris atau ajudannya. Bukan karena sombong, melainkan adalah untuk menghindati TPM ini. Bekerjalah di tempat yang tertutup, semata-mata untuk juga menghindarkan interupsi TPM yang tidak penting, tetapi terpaksa harus direspons. Ajari anak-anak untuk belajar dengan khusyu’. Konsentrasi. Fokus. Tanpa musik karena sesungguhnya musik itu TPM memecah konsentrasi. Jangan sambil makan kacang, karena selain TPM juga meja belajar jadi kotor, serta kemungkinan bukan pelajaran yang “masuk”, melainkan kacangnya.

Jika PM adalah ekstrim kuadran atas, maka TPTM adalah ekstrim kuadran bawah. Bayangkan saja mengerjakan hal yang sudah Tidak Penting, Tidak Mendesak pula. Ini jelas kehidupan yang mubadzir. Padahal innal mubadzdziriina kaana ikhwaanasy syayaathiin ~ sesungguhnya mubadzir itu temannya syetan.

Hati-hati, banyak sekali yang namanya hobby sesungguhnya mengajak ke kuadran TPTM. Main gaple, misalnya. Dan banyak-banyak lagi, termasuk menonton acara-acara layar kaca.

Kuasai Kuadran.
Nah, karena sesuai ayat diatas menunda-nunda itu bisa menimbulkan kekufuran, maka pandai-pandailah memilah-milah kegiatan kedalam Matriks Cover.
Mereka yang hidup di kuadran ekstrim kiri atas PM (Important - Urgent) sudah dipastikan hidupnya full stress.  Semua serba tergesa-gesa. Pekerjaan menumpuk. Hutang banyak. Penyakitan. Dll, dll.

Mereka yang hidup di kuadran ekstrim kanan bawah TPTM (Not Important – Not Urgent) sudah dipastikan hidupnya full mubadzir. Foya-foya, jika tidak mampu di restoran, ya di warteg. Nonton, jika tidak di bioskop, ya di misbar alias gerimis bubar. Begadang, gaple, dst., dst.
Dimana aktifitas kehidupan yang paling aman-selamat-lancar-barokah? Ya di kuadran kanan atas PTM (Important – Not Urgent). Mereka yang mengerjakan hal-hal yang penting saja, tetapi dikerjakan seawal mungkin. Tidak menunggu due date, atau expiration date, atau tanggal jatuh tempo.

Sabda Nabi, berdo’alah di saat waktu longgar alias di saat Tidak Mendesak, sehingga di saat keadaan genting atau Mendesak, do’anya makbul karena sering diasah. Bagi yang lajang dan sudah nishob nikah, solat istikhoroh tidak hanya ketika dilamar atau melamar lalu diburu-buru untuk memberikan jawaban, tetapi sejak awal, di waktu-waktu longgar, di saat tidak mendesak.
Waktu kehidupan hanya 24 jam. Quota umur hanya 63 tahun. Silahkan hitung, tinggal berapa jam umur ini? Masihkah akan mengabaikan nasehat “dilarang mengosongkan waktu dan mengangggurkan diri”?

Di akhirat nanti, semua hisaban akan dimulai dari sholat. Jika sholatnya sholuhat, maka baik semua amalannya, sebaliknya jika sholatnya fasadat, maka buruk semua amalannya. Jadi menunggu apa lagi untuk mulai sholat dengan tumanina? Dan khusyu’? Dan mengerjakan perkara-perkara penting, urusan agama urusan kehidupan lebih awal, tidak ditunda-tunda lagi? Fa Aina Tadzhabuun?

 Oleh: Ir.H. Teddy Suratmadji, Msc

Terakhir Diupdate pada Jumat, 13 Mei 2011 22:53
 
1 Vote

0 Comments



SMP NEGERI 3
S E M A R A N G
Jl. D.I. Panjaitan 58 Smg
024-3541525, 024-3519955
www.smpn3-smg.sch.id



INFO SPEGA

PENGURUS OSIS 2016/2017 DILANTIK



BAND DAN OPINI LISAN RAIH JUARA



PENGURUS OSIS/MPK SMP 3 DILANTIK



BAND DAN OPINI LISAN RAIH JUARA

User Login



New Download

Word to PDF
2010-09-13
Avira Antivir
2010-09-13
Fisika Inti
2010-09-13
Konverter Besaran dan Sat...
2010-09-13

Social Bookmark

Daftarkan ke: Mr. Wong Daftarkan ke: Webnews Daftarkan ke: Icio Daftarkan ke: Oneview Daftarkan ke: Yigg Daftarkan ke: Linkarena Daftarkan ke: Digg Daftarkan ke: Del.icoi.us Daftarkan ke: Reddit Daftarkan ke: Simpy Daftarkan ke: StumbleUpon Daftarkan ke: Slashdot Daftarkan ke: Netscape Daftarkan ke: Furl Daftarkan ke: Yahoo Daftarkan ke: Blogmarks Daftarkan ke: Diigo Daftarkan ke: Technorati Daftarkan ke: Newsvine Daftarkan ke: Blinkbits Daftarkan ke: Ma.Gnolia Daftarkan ke: Smarking Daftarkan ke: Netvouz Daftarkan ke: Folkd Daftarkan ke: Spurl Daftarkan ke: Google Daftarkan ke: Blinklist Information